Category: Pangan Fungsional

Extra Virgin Coconut Oil (VCO)

green extra virgin coconut oil kualitas super bagus
Green VCO

Green VCO (Virgin CoconutOil) adalah minyak kelapa murni yang dibuat dengan metode pembekuan. Virgin coconut oil adalah berupa fatty acid (asam lemak), dan bukan lemak. Oleh karena itu VCO tidak akan menggumpal di dalam tubuh. Sebagian besar asam lemak dalam VCO tergolong dalam asam lemak dengan panjang rantai medium (MCT = Medium Chain Triglyceride).

Bila VCO dioleskan di atas kulit, maka sebagian besar (80%) akan langsung terserap. Kebiasaan mengkonsumsi VCO adalah kebiasaan yang menyehatkan karena di dalam tubuh, MCT (Medium Chain Triglyceride) ini akan diurai menjadi Mono Glyceride. Sifat fungsional dari mono glyceride ini antara lain:

  • memperbaiki metabolisme tubuh
  • membunuh virus, bakteri, dan jamur
  • memperbaiki fungsi organ tubuh
  • melarutkan nutrisi larut lemak dalam tubuh
  • menurunkan platelet dalam darah

Tahukah Anda bahwa dalam minyak kelapa, santan kelapa, dan bagian mana saja dari kelapa TIDAK MENGANDUNG KOLESTEROL sama  sekali? Sehingga tidak ada alasan bagi Anda untuk takut mengkonsumsi kelapa dan produk-produk olahan kelapa.

Makanan yang mengandung kolesterol HANYA bersumber dari jaringan tubuh hewan, sedangkan tanaman dan hasil tanaman tidak mengandung kolesterol. Oleh karena itu, jangan sampai Anda terkecoh dengan informasi yang tidak benar, termasuk informasi menyesatkan dari kalangan medis. Hasil uji klinis terkini menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara kelapa dengan munculnya kolesterol dalam tubuh manusia.

Kampanye asosiasi minyak non-tropis Amerika Serikat yang “jahat” dan bertujuan membunuh bisnis minyak tropis telah menyesatkan pikiran kita selama berpuluh-puluh tahun. Mereka berkonspirasi menyebarkan informasi yang menyesatkan bahwa minyak kelapa adalah penyebab naiknya kolesterol darah. Namun kenyataan di lapangan justru menunjukkan hal yang sebaliknya. Terbukti bahwa selama beribu-ribu tahun masyarakat pengkonsumsi kelapa bukan saja tidak pernah mengalami sakit seperti yang dituduhkan mereka. Akan tetapi, masyarakat pengkonsumsi kelapa justru terhindar dari berbagai macam penyakit modern seperti penyakit jantung, hepatitis, diabetes, obesitas, dan lain sebagainya. Kondisi masyarakat yang sehat ini terbukti ternyata dikarenakan secara rutin mereka mengkonsumsi kelapa dalam diet harian mereka. Contoh uji klinis ini dilakukan pada komunitas masyarakat di Kepulauan Pasifik, yaitu di Pulau Puka Puka dan Toleau.

Anjuran Penggunaan Virgin Coconut Oil (VCO)

Sebagai pangan fungsional yang sehat, konsumsi VCO tidak mengenal dosis. Namun untuk menjaga keseimbangan asupan gizi, maka konsumsi (intake) VCO dianjurkan sebagai berikut:

Dalam keadaan normal dan sehat

  • Dewasa: 3 sendok makan per hari
  • Anak-anak di bawah umur 5 tahun: 3 sendok teh per hari

Dalam keadaan sakit

  • Dewasa: 5 sendok makan per hari
  • Anak-anak di bawah umur 5 tahun: 4 sendok teh per hari

Manfaat Kesehatan Protein Kedelai

sifat fungsional protein kedelai
susu kedelai kaya protein nabati

Pada postingan sebelumnya tentang Sifat Fungsional Kedelai, telah disebutkan bahwa kedelai adalah kacang-kacangan yang mengandung protein dalam jumlah tinggi. Kualitas protein kacang kedelai juga bagus karena protein kedelai mengandung semua asam amino esensial yang dibutuhan tubuh manusia, dan dapat disejajarkan dengan protein hewani. Pada saat ini, banyak penelitian di negara maju, terutama di AS, yang berhubungan dengan manfaat protein bagi kesehatan.

Protein Kedelai Menurunkan Kolesterol dan Mencegah Atherosclerosis

Konsumsi protein kedelai setiap hari dapat menurunkan resiko panyakit jantung dengan menurunkan kadar kolesterol-LDL darah dan lemak darah. Selama bertahun-tahun para peneliti mendapatkan bahwa konsumsi makanan dari kedelai mempunyai efek cenderung menurunkan kolesterol karena kedelai rendah kadar asam lemak jenuhnya dan tidak mengandung kolesterol. Penggantian protein hewani dengan protein kedelai dalam makanan sehari-hari terbukti menurunkan kadar kolesterol baik pada hewan percobaan maupun manusia.

Hasil metabolisis menunjukkan bahwa terdapat 38 hasil studi yang menunjukkan atau menyimpulkan bahwa konsumsi protein kedelai menurunkan kolesterol total, kolesterol LDL dan trigliserida, tanpa menurunkan kolesterol HDL, pada orang yang mempunyai kadar kolesterol yang tinggi. Konsumsi protein sebanyak 25 gram per hari menunjukkan adanya penurunan kolesterol pada orang yang mempunyai kadar kolesterol tinggi (hiperkolesterolemik). Mekanismenya belum begitu jelas, tetapi ada beberapa teori yang dapat menjelaskan hal tersebut. Para peneliti telah menemukan bahwa isoflavon yang terdapat dalam protein kedelai meningkatkan efek penurunan kolesterol pada monyet rhesus. Sinergi antara protein dan isoflavon diduga merupakan faktor utama dalam kemampuan kedelai dalam menurunkan kelesterol. Protein kedelai juga menunjukkan daya hambat dalam oksidasi kolesterol LDL. Hal ini merupakan cara lain dari protein dalam mencegah atherosclerosis.

Protein Kedelai Menurunkan Resiko Osteoporosis

Konsumsi protein kedelai juga terbukti dapat menurunkan resiko osteoporosis. Protein kedelai dalam bentuk isolat dapat mencegah kerapuhan tulang pada tikus percobaan yang dijadikan model untuk mempelajari osteoporosis. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengklarifikasi apakah sifat protektif kedelai ini berasal dari protein atau isoflavon yang terkandung di dalamnya. Para peneliti yang lain menemukan bahwa orang yang mengkonsumsi protein kedelai kehilangan kalsium lebih sedikit ke dalam urine dibandingkan dengan orang yang mengkonsumsi protein hewani . Konsumsi asam amino belerang yang berlebihan, yang terjadi jika banyak mengkonsumsi protein hewani, cenderung untuk memperbanyak kehilangan kalsium dalam urin.

Protein Kedelai Menguntungkan Ginjal

Konsumsi protein kedelai juga mempunyai efek yang menguntungkan fungsi ginjal. Pada tikus percobaan yang di disain mempunyai penyakit ginjal, konsumsi protein kedelai mempunyai daya hidup yang lebih baik dan mempunyai kerusakan ginjal yang lebih sedikit dibandingkan dengan konsumsi protein susu (kasein). Suatu studi yang dilakukan pada sukarelawan yang sehat menunjukkan adanya perbedaan dalam fungsi ginjal antara yang mengkonsumsi protein kedelai dengan yang mengkonsumsi protein hewani pada kadar yang sama. Pada saat mengkonsumsi protein kedelai terjadi glomerular filtration rate, aliran plasma ginjal dan kejernihan fraksi albumin yang lebih rendah. Implikasi praktis dari studi ini adalah bahwa pasien akan menghasilkan hasil yang sama jika diberi protein kedelai dibandingkan dengan jika diberi makanan yang dibatasi kadar proteinnya.

Hmm… ternyata banyak juga ya manfaat protein kedelai bagi kesehatan tubuh kita. Oleh karena itu, jangan sepelekan makanan yang berasal dari kedelai, seperti tahu, tempe, dan lain-lain.

Pangan Fungsional: Pengertian dan Syaratnya

Definisi dan Syarat Pangan Fungsional

Apakah Pangan Fungsional Itu?

Berbagai macam pangan fungsionalPangan fungsional adalah pangan yang karena kandungan komponen aktifnya dapat memberikan manfaat bagi kesehatan, diluar manfaat yang diberikan oleh zat-zat gizi yang terkandung di dalamnya. Menurut American Dietetic Association (ADA), yang termasuk pangan fungsional tidak hanya pangan alamiah tetapi juga pangan yang telah difortifikasi atau diperkaya dan memberikan efek potensial yang bermanfaat untuk kesehatan jika dikonsumsi sebagai bagian dari menu pangan yang bervariasi secara teratur pada dosis yang efektif.

Persyaratan Pangan Fungsional

Untuk dapat disebut sebagai pangan fungsional, paling tidak harus ada beberapa hal yang harus dipenuhi, yaitu:

(1). Pangan fungsional harus berupa produk pangan, bukan kapsul, tablet atau bubuk dan berasal dari bahan yang terdapat secara alami. (2). Pangan fungsional dapat dan layak dikonsumsi sebagai bagian dari diet atau menu sehari-hari, dan (3). Pangan fungsional harus mempunyai fungsi tertentu pada waktu dicerna, memberikan peran dalam proses tubuh tertentu, seperti memperkuat mekanisme pertahanan tubuh, mencegah penyakit tertentu, membantu tubuh untuk memulihkan kondisi tubuh setelah terserang penyakit tertentu, menjaga kondisi fisik dan mental, dan memperlambat proses penuaan.

Bahan atau ingredien yang dapat mempertingi status kesehatan, digolongkan sebagai berikut : serat makanan (dietary fiber); oligosakarida; gula alkohol; asam amino, peptida dan protein; glikosida; alcohol; isoprenoid dan vitamin; kolin; mineral; bakteri asam laktat; asam lemak tidak jenuh; serta fitokimia dan antioksidan.

Aneka Ragam Pangan Fungsional

Bentuk fisik pangan fungsional yang mengandung bahan-bahan aktif (bioaktif) di atas terdiri atas : (1). Produk susu, misalnya susu fermentasi dan lactobacillus, (2). Minuman, yaitu minuman yang mengandung suplemen serat makanan, mineral, vitamin, minuman olahraga kaya protein yang mengandung kolagen dan lain3 lain, serta (3). Makanan, misalnya roti yang mengandung vitamin A tinggi, serat makanan tinggi; biskuit yang diperkaya serat makanan, makanan dari bahan yang dikenal memiliki kandungan senyawa aktif berkhasiat seperti isoflavon dalam kedelai dan lain-lain. Demikian tulisan singkat ini, mudah-mudahan dapat memperluas pengetahuan dan wawasan kita mengenai pangan fungsional.

Sifat Fungsional Kedelai

Kedelai dan Sifat Fungsionalnya Bagi Kesehatan

Disamping bernilai gizi tinggi, para peneliti menemukan bahwa kedelai mempunyai banyak efek menguntungkan kesehatan bila dikonsumsi. Kacang kedelai merupakan sumber protein tercerna yang sangat baik. Meskipun kandungan vitamin (vitamin A, E, K dan beberapa jenis vitamin B) dan mineral (K, Fe, Zn dan P) di dalamnya tinggi, tetapi kedelai rendah dalam kandungan asam lemak jenuh. Sekitar 60 % kandungan asam lemak tidak jenuh kacang kedelai terdiri atas asam linoleat dan linolenat, yang keduanya diketahui membantu kesehatan jantung. Kacang kedelai tidak mengandung kolesterol. Makanan dari kedelai juga bebas laktosa, yang sangat cocok bagi konsumen yang menderita lactose intolerant.

Pada bulan Oktober 1999, US FDA menyetujui klaim kesehatan yang menyatakan bahwa konsumsi 25 gram protein kedelai, sebagai bagian dari diet rendah lemak jenuh dan kolesterol, dapat mengurangi resiko penyakit jantung, yang merupakan penyebab kematian nomor satu di banyak negara maju. Hasil-hasil penelitian juga menunjukkan bahwa kedelai dapat membantu meningkatkan kondisi penderita penyakit ginjal, tekanan darah tinggi, diabetes, osteoporosis dan beberapa jenis kanker. Penelitian medis terkini sedang meneliti lebih lanjut potensi yang menguntungkan tersebut dan mekanisme kerjanya.

Komposisi Nutrisi Kedelai

Produk-produk yang mengandung kedelai umumnya bergizi tinggi, mengandung protein yang mudah dicerna dan mempunyai nilai Protein Efisiensi Rasio (PER) yang dapat disejajarkan dengan protein hewani. Produk-produk dari kedelai juga bebas laktosa, yang membuatnya lebih cocok untuk konsumen yang menderita intoleransi laktosa. Kacang kedelai rendah kandungan asam lemak jenuhnya, Lemak kedelai mengandung 15 % asam lemak jenuh, sedangkan sekitar 60 % lemak tidak jenuhnya berisi asam linolenat dan linoleat, yang keduanya diketahui membantu menyehatkan jantung dan mengurangi resiko terkena kanker.

Kacang kedelai juga kaya vitamin (vitamin A, E, K dan beberapa jenis vitamin B) dan mineral (K, Fe, Zn dan P). Beberapa produk dari kedelai utuh juga merupakan sumber serat makanan yang baik. Di bawah ini adalah tabel komponen nutrisi dalam ekstrak kedelai jernih.

Tabel komposisi gizi/nutrisi kedelai
Komposisi gizi ekstrak kedelai tersaring (jernih)

Sifat nutrisi kedelai agak unik dibandingkan jenis kacang-kacangan yang lain karena kedelai tinggi kandungan protein dan lemak, serta lebih rendah kandungan karbohidratnya.Kedelai tinggi kandungan proteinnya. Pada kebanyakan kacang-kacangan lain, kadar proteinnya berkisar antara 20 – 30 %, sedangkan pada kedelai 35 – 38 %. Kalau protein dalam produk-produk kedelai bervariasi misalnya, tepung kedelai 50 %, konsentrat protein kedelai 70 % dan isalat protein kedelai 90 %.

Kedelai merupakan penghasil minyak yang tinggi. Minyak ini rendah kandungan lemak jenuhnya, yaitu sekitar 15 %, dan tinggi kadar asam lemak tidak jenuhnya yaitu sekitar 61 % lemak tidak jenuh ganda (PUFA) dan 24 % lemak tidak jenuh tunggal (monounsaturated fatty acid). Minyak kedelai merupakan sumber asam linoleat yang baik, yang keduanya merupakan asam lemak esensial. Lebih dari 50 % asam lemaknya adalah asam linoleat, sedangkan sekitar 7 % merupakan asam linolenat.

Sebelum diolah, kedelai sangat tinggi kandungan vitam E yang merupakan vitamin yang larut minyak. Pengolahan menjadi minyak akan membuang sekitar 3 % dari vitamin E. Limbahnya tersebut merupakan sumber vitamin E yang baik. Minyak hasil olahannya masih tergolong tinggi kandungan vitamin E-nya, karena satu sendok teh menyumbangkan sekitar 10 % dari total kebutuhan vitamin E per hari.

Disamping vitamin E, produk samping lain dari minyak kedelai adalah lesitin. Lesitin banyak digunakan sebagai emulsifier, yang berfungsi untuk menghasilkan campuran yang stabil antara minyak dan air dalam bentuk bahan pangan emulsi. Konsumsi lemak yang dianjurkan adalah maksimum 30 % dari konsumsi kalori per hari dan tidak lebih dari 10 %-nya merupakan asam lemak jenuh. Konsumsi lemak atau minyak diatas batas yang dianjurkan tersebut menyebabkan peningkatan kadar kolesterol darah dan resiko atherosklerosis.

Kedelai Kaya Protein Bermutu Tinggi

Pada umumnya protein nabati dikenal mempunyai mutu yang lebih rendah dibanding dengan protein hewani, karena mempunyai kandungan asam amino esensial tertentu yang lebih rendah. Biji-bijian cenderung rendah kandungan asam amino lisinnya, sedangkan kacangkacangan, termasuk kedelai cenderung rendah dalam kandungan asam amino belerang, yaitu metionin dan sistein. Meskipun masih mempunyai asam amino pembatas berupa asam amino yang mengandung belerang (metionin dan sistein), tetapi jika dibandingkan dengan kacang-kacangan lain, jumlah kedua asam amino pembatas tersebut dalam kedelai masih lebih tinggi. WHO telah menetapkan bahwa jika dikonsumsi sesuai anjuran konsumsi protein harian, protein kedelai mengandung jumlah semua asam amino esensial yang mencakupi kebutuhan tubuh manusia, dan dapat disejajarkan dengan protein hewani. Para vegetatian dapat memilih sumber asupan protein berkualitas dari kedelai,